Minggu, 15 April 2012

EAGLES NEST NETWORK


EAGLES NEST NETWORK
(1 Korintus 12:1-31)
Tak terasa 5 tahun sudah kami memulai pelayanan untuk menjangkau mereka yang selama ini sulit terjangkau pelayanan pada umumnya dan memuridkan mereka yang mau menjadi anak Tuhan yang sepenuh hati mengikuti langkahNya. Memasuki tahun ini kami sekeluarga berdoa dan mencari wajah Tuhan untuk mengetahui apa tugas kami berikutnya.
Tuhan mengingatkan saya akan sebuah perbincangan dengan beberapa rekan sepelayanan saya beberapa tahun yang lalu mengenai sebuah “faceless generation” ( generasi tanpa wajah). Apa maksudnya? Maksudnya adalah bahwa pada hari akhir akan ada sebuah angkatan dimana mereka sudah tidak mempedulikan reputasi pribadi apalagi “pelayanan pribadi”. Akan ada suatu gerakan dimana anak-anak Tuhan mulai menyadari bahwa mereka tengah membangun Kerajaan Tuhan dan bukan kerajaan sendiri. Mereka akan membayar harga untuk tidak melihat ke dalam saja, membangun pelayanan atau gerejanya tetapi mulai fokus pada visi Kerajaan Tuhan di mana, setiap bagian dalam tubuh Kristus mulai saling menopang dan berfungsi.
Di kala tengah berdoa itulah Tuhan memberikan sebuah kesan yang kuat untuk membangun jejaring, mulai berfungsi sebagai tubuh dan memperluas Kerajaan Tuhan bersama dalam keragaman (lintas pelayanan, yayasan, gereja, people on the market maupun individu). Kini kami berkomitmen untuk saling mendoakan dan mendukung setiap pelayanan yang ada untuk membangun tubuh Kristus. Kami sendiri berkomitmen dengan merubah pelayanan The Eagles Nest Ministries menjadi The Eagles Nest Network. Dari dasar hati kami tidak ingin memberikan sebuah nama untuk pelayanan kami sebab kami hanya fokus melayani Tuhan tetapi untuk mempermudah saudara-saudara seiman yang masih suka bertanya pada kami, nama pelayanannya apa? Maka kami memberi nama pelayanan ini The Eagles Nest. Ada pun The Eagles Nest merupakan, sebuah insight yang Tuhan berikan pada kami mengenai rencana Tuhan atas kehidupan keluarga kami.
Kami berdoa agar setiap anak Tuhan dapat mulai mencari wajah Tuhan dan menemukan bagiannya atau fungsinya dalam tubuh Kristus. Ada banyak anak Tuhan yang menjadi frustasi karena tidak cakap berkhotbah atau memimpin pujian atau bermain musik…..tetapi berfungsi dalam tubuh Kristus bukan hanya sekedar pelayanan di mimbar gereja. Ada begitu banyak bentuk pelayanan maupun fungsi di dalam tubuh Kristus. “Biarlah mata berfungsi sebagai mata dan tidak perlu meaksakan dirinya menjadi mulut, atau hidung biarlah berfungsi sebagai hidung dan jangan menjadi kaki” sebab akan menyalahi aturan dan tak berfungsi dengan baik. Kita semua penting bagi perluasan Kerajaan Tuhan, yang kita perlukan adalah mulai duduk diam dan tenang agar kita bisa berdoa dan mendengar suara Tuhan. Hingga kita tahu rencana Tuhan dalam hidup kita dan mulai berfungsi bagiNYA.
Hari kedatangan Tuhan makin dekat, apa yang akan kita kerjakan untuk DIA….yang telah mati menebus dosa kita? Hanya duduk diam berkumpul dengan keluarga, jalan-jalan dan menikmati hidup atau kekayaan….lalu mati masuk surga? Hanya itu yang ada dalam benakmu sebagai anak Tuhan?
Tuhan telah memilih dan memanggil kita untuk menjadi anak-anakNYA di muka bumi yang mencerminkan karakterNYA dan menjadi surat terbuka bagi dunia. Bagaimana dengan diri kita sudah mencerminkan Kristus atau Mamon? Menikmati jerih payah dalam pekerjaan kita sah-sah saja tetapi membiarkan saudara seiman kita menderita kurang gizi, tidak berpendidikan, dalam kondisi menderita sakit dan tanpa pekerjaan merupakan sebuah ironi dari sebuah “keluarga Tuhan”. Kita tak mungkin melakukannya sendiri…..tetapi bila kita bergerak bersama….maka dampak itu akan tampak dan terasa. Namun sekali pun tidak ada yang mau menjadi “pembuka jalan atau teladan”……kami mau taat padaNYA.
Kami melihat banyak keluarga hamba Tuhan yang menderita kekurangan dan anak-anak mereka berpendidikan rendah…..pada awal mula pelayanan kami pun sempat mengalami dimana kami tak mampu membayar SPP anak kami…..kami tahu bagaimana sulitnya hidup berkekurangan…diremehkan orang….tetapi hal tersebut tidak akan kami jadikan sebuah alasan untuk tidak setia pada rencana Tuhan. Kala kami merancangkan rencana-rencana pribadi, kala itu Tuhan mengingatkan sebuah pernyataan hambaNYA Tim Storey,”Good idea is not always God Idea” (Ide baik belum tentuide Tuhan).
Kala Tuhan memberikan amanat pada kami untuk membangun jejaring dan mulai berfungsi sebagai tubuh Kristus tanpa pamrih. Ini seolah pekerjaan yang mudah tetapi sebenarnya berat sebab setiap hari kami harus mematikan “ego pelayanan kami”. Ada banyak gereja maupun pelayanan yang menggalang atau mencari dan menggunakan dana untuk membangun “gereja atau pelayanannya”. Kita semua tahu akan hal tersebut, tetapi bila ada seseorang atau pelayanan yang mencari dana bagi pelayanan lain itu merupakan hal yang langka. Dalam pikiranku aku bergumul,”Aduh Tuhan, kami sendiri masih banyak membutuhkan dana……namun KAU meminta kami untuk juga membantu pelayanan lain yang berkekurangan?” Dave Broos masih manusia biasa…..ada rasa takut dan cemas. Tetapi kami mau percaya bahwa bila ini kehandakNYA maka Tuhan juga akan membuka jalan bagi kehidupan kami.
Saat ini di depan kami, Tuhan memperhadapkan kami dengan beberapa Panti Asuhan dan Panti Werda yang membutuhkan bantuan baik secara materi maupun relawan……saya juga bertemu dengan banyak teman yang masih muda maupun sudah berusia di atas 40 tahun yang membutuhkan pekerjaan. Saya bukan orang kaya apalagi Tuhan tetapi saya berupaya sedemikian rupa untuk menjadi “tangan” Tuhan menolong saudara-saudara saya sekuat kemampuan saya.
Saya percaya, bila kita memfokuskan pandangan kita “hanya” pada Tuhan Yesus, mendengar isi hatiNYA dan memilih untuk taat hanya padaNYA……maka bersama kita bisa membuat perbedaan. Mari kita bersama-sama berjejaring dan mulai berfungsi sebagai tubuh Kristus dan biarlah IA menjadi KEPALA kita.

Rabu, 01 Februari 2012

BE THE LIGHT (JADILAH TERANG)


BE THE LIGHT
(JADILAH TERANG)
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Matius 5:16).
Ayat yang mungkin sering dibaca atau kita sering mendengarkannya dalam khotbah. Ada orang-orang yang menyatakan,”Oh..saya tahu ayat itu, pendeta saya sering mengkhotbahkan hal itu….atau…Ah saya masih ingat itu ayat hafalan saat saya Sekolah Minggu dulu..”
Pernah mendengarkan atau menghafal ayat tersebut saja tidaklah cukup. Sebab Tuhan mencari orang-orang yang mau menjadi pelaku Firman Tuhan. Sama saat saya meminta putra saya, Philip, untuk membereskan tempat tidurnya,”Philip, coba bereskan tempat tidurmu.” Harapan saya adalah saat dia mendengar perintah saya maka ia segera membereskan tempat tidurnya. Saya tidak akan terkesan bila ia datang dan berkata,”Papa…saya hafal perintah Papa..”Philip, coba bereskan tempat tidurmu”….sudah saya renungkan kebenaran yang Papa katakan dimana saja dan kapan saja bahkan saya sudah studi dalam bahasa Yunani-nya pengertiannya jauh lebih dalam lagi dan menjadi berkat yang luarbiasa…memberikan pencerahan baru…” (Bukan berarti menghafalkan ayat Firman Tuhan atau mendalami pelajaran Alkitab itu salah). Tetapi yang saya inginkan sederhana saja……JUST DO IT (LAKUKAN). Tuhan berfirman bahwa IA lebih menyukai “Ketaatan” daripada korban persembahan. Tuhan tidak bisa disogok dengan harta atau ketaatan mengikuti pertemuan ibadah, sebab IA Yang memiliki segala sesuatu termasuk nyawa kita.
Sudahkah kita menjadi pelaku firman Tuhan…menjadi murid Kristus yang hari lepas hari bertumbuh… hingga pribadi Kristus makin tampak jelas melalui kehidupan kita? Dunia tidak terkesan mendengar celoteh dan kesaksian kita bila gaya hidup kita berlawanan dengan pengajaran atau kesaksian yang kita sampaikan. Apa yang kita sembah dalam hati atau “tuhan” dalam hati kita akan tampak melalui aksi atau tindakan kita setiap hari. Bila kita mengatakan Tuhan itu penuh kasih tetapi tindakan kita setiap hari tidak pernah menunjukkan empati atau belas kasihan terhadap sesama, siapa yang mau percaya pada Tuhan Yesus? Siapapun yang sungguh-sungguh terkoneksi dengan Tuhan Yesus maka ia akan menjadi pribadi yang full of compassion atau penuh belas kasihan.
Seseorang yang beriman pada Tuhan Yesus akan melakukan segala perintahNYA. MENGAPA? Seseorang tidak otomatis selamat karena dia beragama Kristen atau asal rajin ke gereja dan membayar perpuluhan. Syarat seseorang menjadi pengikut Kristus adalah,”Setiap orang yang mau mengikut AKU, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut AKU.”(Lukas 9:23). Lebih jauh bila kita membaca kitab Yakobus 2:14-26 dalam perikopnya jelas dikatakan Iman Tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Iman tanpa ketaatan untuk melakukan perintahNYA adalah percuma atau sia-sia. Seseorang menjadi “terang” dikala ia mentaati dan melakukan apa yang ia imani.
Saudara-saudaraku tercinta mendengarkan firman Tuhan, menghafalkannya dan mempelajarinya lebih dalam sangatlah baik tetapi semuanya akan menjadi sia-sia bila kita tidak pernah mengaplikasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Saya seorang penggemar olahraga sepakbola dari sejak saya SD sampai masa kuliah. Saat kami hendak bertanding maka pelatih akan memberikan instruksi strategi apa yang akan digunakan sebagai tim, juga mengarahkan bagi setiap individu tugasnya di lapangan…setelah pengarahan maka kita siap menuju lapangan dan bertanding. Akan tampak konyol sekali bila sesudah semua pengarahan dan masuk stadion……dimana para suporter sudah berteriak-teriak memberi semangat tetapi “tim tersebut” bukannya bertanding malah semua duduk di bangku cadangan hingga akhirnya kalah WO karena enggan bertanding. Karena setelah melihat arena pertandingan “anggota tim” mulai dikuasai kegentaran, pikiran negatif, takut cedera dan kalah. Anda mengerti maksud saya? Kita pergi ke gereja atau persekutuan, mendengarkan firman Tuhan, menghafalkannya bahkan belajar Alkitab secara mandiri atau mengikuti sekolah…..tetapi “hanya sampai disitu”…..kita hanya senang mendapatkan instruksi dan mendengarkan kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi TETAPI kita enggan melakukannya karena takut ada resikonya. Kalau kita melayani orang miskin nanti kita direpotkan oleh mereka dengan permintaan bantuan terus, kalau melayani mantan napi..iya kalau sungguh-sungguh bertobat kalau nanti murtad lagi jangan seisi rumah dicuri, kalau melayani pelacur…jangan-jangan laki gua digodain..repot…dstnya..dstnya. Akhirnya kita batal melayani dan beralasan “bukan panggilan saya”. Banyak orang Kristen yang “playing safe”, mau menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat agar masuk surga dan dalam kehidupannya diberkati secara materi…”that’s it”….bila Tuhan memerintahkan sesuatu dalam firmanNYA yang mengusik “comfort zone/zona nyaman” selalu saja ada dalihnya. Ingat selalu bahwa bukan setiap orang yang berseru atau mengaku Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya akan otomatis selamat...Anda dapat membacanya dalam Matius 7:21-23…Bukan setiap orang yang berseru Tuhan..Tuhan..akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga…melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga.
Esensi kekristenan adalah mengasihi Tuhan dan sesama (Matius 22:37-40). Menjadi “terang” bukan sekedar terkoneksi dengan Tuhan tetapi juga menerapkan setiap perintahNYA dalam kehidupan kita sehingga orang dapat melihat pribadi Tuhan yang kita sembah melalui cara atau gaya hidup kita. Kasih Tuhan itu sangat “gila”….IA menyatakan kasih dengan cara yang sangat “ekstrim”….Yohanes 3:16 berkata,”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga IA telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNYA tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Sebagai seorang ayah, saya mempunyai dua orang putra yang sangat saya kasihi, Philip dan George…meski saya memiliki dua orang anak….saya tidak akan pernah mau untuk mengorbankan salah satunya untuk menebus seorang atau sekumpulan penjahat yang tidak layak diampuni. Itulah Tuhan IA mengorbankan putraNYA untuk menebus dosa manusia berdosa..yang sebenarnya tidak layak menerimanya. Siapakah saya dan Anda sampai IA mau menyelamatkan kita bahkan dengan mengorbankan AnakNYa….bahkan IA sudah membuka jalan penebusan di saat “kita masih melakukan dosa”….siapakah kita hingga dilayakkan..sungguh suatu anugerah….sebab kita sebenarnya sama sekali tidak layak.
BAPA memberikan Yesus untuk tebus kita….apakah yang sudah kita berikan padaNYA? IA hanya meminta kita untuk taat padaNYA…..jadilah TERANG……di muka bumi…di rumah.. di kantor…di mall…di cafĂ©….di kampus… di sekolah..di mana pun…LET IT SHINE….LET IT SHINE….tinggalkan zona nyamanmu…dan taati perintah Tuhan untuk pergi dan jadikanlah SEMUA BANGSA murid Tuhan.
JADILAH TERANG!!!!!!!!!!

Rabu, 25 Januari 2012

A DYING ART ?


NOTE: A great word from the founder of the 'Barnabus Bulletin'
ministry on the internet.

ENCOURAGEMENT - a DYING ART??
-by Rodney Francis.

As we enter our 12th year of "Barnabas Bulletin", I would like to
focus on the purpose as to why this BB Ministry was started. It
came as a result of my ministering in Asia amongst a group of
discouraged ministers and missionaries from eight different
countries. That experience gave me a burden for Christian Leaders,
as I have observed over the years how many get discouraged in
their calling. The burden did not leave me, and then God spoke to
me in England, told me to encourage them, and gave me the name
"Barnabas Bulletin".

The name "Barnabas" means "son of prophecy; son of consolation."
"Consolation" means "a person or thing that is a source of comfort
in a time of suffering, grief, disappointment, etc." (Collins Dictionary).

The Bible describes him as: ". . .they sent out Barnabas to go as
far as to Antioch. When he came and had seen the grace of God,
he was glad, and encouraged them all that with purpose of heart
they should continue with the Lord. For he was a good man, full of
the Holy Spirit and of faith. And a great many people were added
to the Lord" (Acts 11:22-24). Barnabas was an encourager. He
saw the good and the potential in others and encouraged them
accordingly. The ministry of encouragement is one that every
Christian can function in. Everywhere one looks today people need
encouraging. You need encouraging ~ and I need encouraging!
The word "encourage" means "1. to inspire (someone) with the
courage or confidence (to do something). 2. to stimulate (something
or someone to do something) by approval or help; support" (Collins).

WHEN WAS the LAST TIME You ENCOURAGED SOMEBODY?

Tragically it seems that few Christians consciously go out of their
way to encourage others. Why not? Is it because we are looking
for it from others, but don't realize that we can make the first move
and encourage others? Ask yourself, "When was the last time you
audibly encouraged someone else?" (When was the last time
someone audibly encouraged you?). It certainly does not happen
enough. What a difference it makes when someone comes
alongside and tells you they believe in you, in your calling, and that
God is pleased with you? There is power in your tongue and words
when you speak out positive encouragement to others!

I have been in Christian Ministry for over 50 years. In that time I
have seen scores of men and women rise up with a great call of
God on their lives and they begin to do exploits for Jesus. But after
a time they "disappear" and are never heard of again. What
happened? Discouragement got to them and caused them to doubt
the call of God. The resulting decisions made in those times of
discouragement brought about things that "robbed" them of the call
of God on their lives. If only there were those who could discern
what was happening and could have gotten alongside of them with
words of encouragement, then God's called men and women
would not have "fallen by the wayside" in to a normal, but
unfulfilling life-style. I say this because there is nothing more
wonderful than to know the call and will of God ~ and to be walking in it.

May we all make a conscious effort to be more aware of the
importance of the ministry of encouragement. Yes, encouraging
others is an important and vital ministry ~ much more than we
realize! As the world continues to reject the risen Christ Jesus and
spirals on it downwards path, Christians everywhere will need to be
more and more encouraged to "stand firm in the faith" and not to be
side-tracked by the temptations of the world, the flesh and the devil
(1 John 2:15-17). Make no mistake about it: we are in a war, and
the battle is raging! That means the ministry of encouragement is
urgently needed to be spoken out to others. It needs an audible
voice. It needs more than a silent prayer! It needs you and me to
be aware of situations that people are in, and to come alongside
and speak out the words of encouragement they need to hear! You
can do that! I can do that!

Be encouraged to look for opportunities ~ more opportunities ~ to
encourage others in these days. Your encouragement is
desperately needed! Your encouragement may be a matter of life
or death for some! You will be amazed at what your words of
encouragement to others will accomplish. So don't hold back. As
you encourage others, you will also be encouraged yourself! Right
now you and I do not know whether our next word of
encouragement for someone may prove to be a divine encounter
that will change the rest of their lives for God and for good! Do not
hold back!

More GREAT QUOTES


More GREAT QUOTES

"On some positions, Cowardice asks the question, "Is it safe?"
Expediency asks the question, "Is it politic?" And Vanity comes
along and asks the question, "Is it popular?" But Conscience
asks the question "Is it right?" And there comes a time when one
must take a position that is neither safe, nor politic, nor popular,
but he must do it because Conscience tells him it is right." - MLK.

"There is nothing, indeed, which God will not do for a man who
dares to step out upon what seems to be the mist; though as he
puts his foot down he finds a rock beneath him."
--F. B. Meyer

"Our circumstances are not an accurate reflection of God's goodness.
Whether life is good or bad, God's goodness, rooted in His character,
is the same."
--Helen Grace Lescheid

"It's exciting to live in complete oneness with the will of God. It is
never dull or static because it is not a one-time, once-for-all
commitment. It is something we have to work at constantly,
moment by moment." --Evelyn Christenson

"What else will do except faith in such a cynical, corrupt time?
When the country goes temporarily to the dogs, cats must learn
to be circumspect, walk on fences, sleep in trees, and have faith
that all this woofing is not the last word."
--Garrison Keillor

If you feel stuck, bring your whole self to Christ, not just the problem,
but you. Ask God to change your heart. Commit yourself to pray
to that end. It's God's heart to give good gifts to His children."
--Sheila Walsh

"Why do so many Christians pray such tiny prayers when their
God is so big?" --Watchman Nee


-Source - timothyreport.homestead.com

Kamis, 19 Januari 2012

His encounter with Jesus began in the mosque


By Mark Ellis


Like other boys in his Pashtun tribe along the Pakistan-Afghan border, he was sent to a madrasa at age four, where he was compelled to read, recite and memorize the Koran.

“The children mimic or copy the mullah, who is very heavy-handed. You have to memorize out of fear,” says John Taimoor, founder of The Crossbearers, a ministry devoted to presenting biblical Christianity within an Islamic context.
By age 14 he was reading Shakespeare and searching for heroes, when he stumbled across the name ‘Isa,’ the Arabic name for Jesus in the Koran. “I read the name of Jesus and became curious,” he says. “The Lord reached me right in the mosque.”

When he asked the priest about Jesus, he was told that Moses and Jesus were brothers. When he asked how to find out more, they told him to find ‘The Book of Isa.’ “Nobody had ever heard of a Bible.”
Taimoor searched for a ‘Book of Isa’ for two years. When he asked his teacher or inquired at the library he was met with suspicion. “What are you up to boy? Do you want to become a Christian?” they asked.

He met a young man at school rumored to be a Christian. “I begged him to get me a Book of Isa,” he says. “He got so scared he never returned to school again. He thought they would stone him or kill him.” There were times Taimoor rode his motorbike 30 to 40 miles because he heard about a gathering of Christians. “No one was willing to give me a Bible they were so scared.”

“Being strong-willed, the more people stopped me, the more determined I became,” Taimoor adds.
One day he happened to meet a missionary passing through the area north of Islamabad handing out small New Testaments. Taimoor spied the man from a distance and hurriedly rode his motorbike toward him. “He looked at me and greeted me like a Muslim and said, ‘This is the Book of Isa.’”

“It hit me like a bullet,” Taimoor says. “I was almost paralyzed.” Hesitantly, he asked the missionary the cost of the book.

“Nobody can pay the price for it,” he said. “If you want it, you can give me whatever you would like to give.” Taimoor fished into his pocket and pulled out the U.S.equivalent of 20 cents.

Racing home, Taimoor underwent a ritualistic cleansing, deciding this would be appropriate before reading such a book. “I didn’t understand it in the beginning,” he says. “But when I got to the fifth chapter of Matthew something supernatural and unusual happened in my mind.”

He read: “Blessed are they which do hunger and thirst after righteousness: for they shall be filled.” After reading this verse, he believes the Holy Spirit fell upon him—and filled him—as his heart and mind were regenerated.

“I got saved without the help of any individual,” Taimoor recalls. “I didn’t say the sinner’s prayer or go to any altar call,” he says. “Within six months I discovered Jesus Christ is God in human flesh.”

It would be five years before Taimoor had any meaningful contact with other Christians or saw the entire Bible. In the meantime, he set out to memorize the New Testament. “As a Muslim, I thought every good Muslim memorizes the Koran,” he recalls. “Naturally, Christians must be memorizing their books.” He thought he should memorize the books before meeting other Christians. He also feared the book might be taken away from him at any time.

When his mother found out about his new faith she told him, “If I had known you would become a Christian I would have strangled you as a baby.” Several years later, Taimoor’s mother and brother both became believers.

Because Taimoor’s faith developed outside of mainstream Christendom, some of his views would be considered provocative to Christians. “I respect Muhammad and use him next to the Bible and the church as the third great witness of the glory of Christ,” Taimoor says. “I am proving to the Muslims the God they worship is the same God as ours,” he says. He believes Muslims are like Jews–they worship the same God as Christians– but reject Jesus as Messiah.

Taimoor finds common ground with Muslims in their approach to eschatology, the study of “the last things.” Many Muslims are waiting for ‘Jesus, Son of Mary,’ to return as a sign the Day of Judgment has come, according to Taimoor.

“Some Christians are uptight because I show them the term ‘Allah’ is legitimate,” he says. He faults scholars who attempt to prove Muslims are worshipping the moon god. “Muslims don’t worship the moon at all,” he says. He notes the Bible Society has a Bible that uses the name Allah for God.

Many Christians will not understand John’s strategy because it sounds like compromise. “To some degree it is,” he admits. At the same time, he emphasizes his main thrust is to prove that Jesus Christ is God in human flesh. “We worship Him as the Creator and the Savior.”

Taimoor believes more people with “guts” will be needed to carry out the Great Commission. “Jesus told us to go, but we don’t go,” he says. “There is too much education in America and not enough deployment.” At the same time, he confesses it is difficult to leave the comforts of the U.S.behind for the ever-present risks in the Middle East.

One of Taimoor’s ministry objectives is to establish new communities of ‘messianic Muslims’ throughout theMiddle Eastbased on the Book of Ephesians. He likes to say his travel style is patterned after John Wesley. “I work in a circuit and then move on. I move fast,” he says. “Some will follow along.”

“If I had not become a Christian I would have been a Taliban,” Taimoor says. His houses near the border of Afghanistan and Pakistan are lined with prayer rugs, and have the feel of an Eastern worship center. They’re completely filled with Islamic books except for one—the Bible.

People can stay there for extended periods while they read and memorize the Scriptures. “When people come here they want to know what this black book is all about,” Taimoor says. “If they’re serious, I tell them they can stay.” Group meetings in his homes can last up to six hours, but he refuses to call this ‘church,’ instead preferring the term ‘Jaamat Rabaani’—which means ‘gathering of the people of God.’ “If it looks like a church they will burn it,” he says.

“There are a lot of people in theMiddle Eastwho are really hungry and seeking,” he notes. “They only fear Western missionaries because they think they are cultural terrorists. We need to be one of them and go in on their level.”

Kamis, 01 Desember 2011

UCAPAN SYUKUR


Shalom,
Hai guys,
Kami belajar untuk mengucap syukur atas apa pun yang telah Tuhan izinkan terjadi dalam kehidupan dan pelayanan kami. Sebagaimana yang Rasul Paulus nyatakan,” Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu (Efesus 5:4) maupun dalam Filipi 4:11-13,” Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.” Meski pun kami mengalami kendala keuangan di awal pelayanan ini tetapi Tuhan selalu menolong kami. Perlahan tapi pasti kami mulai kembali di jalur rencanaNya. Kami berpikir pada mulanya bahwa akan ada donatur atau suatu organisasi gereja yang mau mengadopsi pelayanan kami namun dengan berjalannya waktu….kami menyadari bahwa jalan Tuhan itu berbeda dengan apa yang kami pikirkan. Ketika Tuhan mulai memanggil kami untuk melayani mereka yang ada dalam market place, pertama-tama Tuhan mengajarkan seperti apa kerasnya “market place” itu.
Saat kami berdoa Tuhan mengingatkan bagaimana Rasul Paulus dalam kehidupan dan pelayanannya belajar mengucap syukur dalam segala hal. Kala orang-orang yang ia layani tidak dapat atau belum mampu mencukupi kebutuhannya maka ia bekerja sebagai pembuat tenda (tentmaker). Dia tidak komplain pada Tuhan atau mempertanyakan pemeliharaan Tuhan. Ia rela melakukan segala hal yang tak bertentangan dengan ajaran Kristus untuk memberitakan Kabar Baik. Kami banyak belajar ternyata tidak mudah untuk tetap berpegang teguh pada kebenaran Firman Tuhan kala harus menghadapi birokrasi yang korup dan “saudara seiman” palsu yang mengatasnamakan Tuhan tapi ternyata hanyalah penipu yang suka mengatasnamakan Tuhan.
Kami pun mencoba untuk memulai usaha kecil untuk mencukupi kehidupan keluarga kami maupun berjalannya roda pelayanan. Kala keuangan terbatas dan putus harap bagaimana bisa mewartakan Kabar Baik bila untuk ongkos pelayanan pun tersendat, lalu Tuhan membawa kami dalam pelayanan melalui dunia maya. Melalui pelayanan di dunia maya ini-lah kami dapat seluas-luasnya menjangkau orang lain dan pada akhirnya memiliki murid-murid untuk memperluas kerajaan Tuhan. Tuhan juga mengajarkan agar kami pertama-tama menjadi “terang dan garam” bagi masyarakat atau tetangga di rumah susun dimana kami tinggal. Dalam Matius 22:38b Tuhan Yesus mengajarkan,”Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Dalam bahasa Inggris sesama manusia diterjemahkan sebagai neighbour atau tetangga. Tidak adanya biaya bukanlah alasan untuk berhenti melayani Tuhan, sebab Tuhan pasti akan membuka jalan dan kita perlu terbuka dengan cara atau rencana yang mungkin baru dari Tuhan.
Kala mereka yang kami muridkan tidak dapat mencukupi kebutuhan jasmani kami, Tuhan membuka jalan bagi kami. Sebagaimana Tuhan menolong nabi Elia kala ada kelaparan, ada janda Sarfat yang dipakai oleh Tuhan untuk mencukupi kebutuhan sang nabi (1 Raja 17:7-24). Janda Sarfat bukanlah orang Israel, ia orang asing. Dalam perjalanan pelayanan kami, kami digerakkan Tuhan untuk membuka usaha catering kecil dan lalu Tuhan mempertemukan kami dengan satu keluarga pemilik salon ( bukan saudara seiman) yang tinggal di lingkungan yang sama. Akhirnya dengan modal seadanya kami memulai usaha dan melayani pesanan para customer salon teman baru kami ini. Dari situlah akhirnya kami dapat sedikit in come tambahan untuk mencukupi kehidupan keluarga kami dan juga pelayanan. Bahkan orang-orang di lingkungan kami tinggal yang notabene berbeda iman dan dapat dikatakan para pemuka agama lain. Mau memesan dan bersahabat dengan kami. Tuhan juga dengan ajaibnya telah menggerakkan seorang saudara seiman dari Cirebon, yang merupakan pengusaha kuliner untuk datang dan share mengenai usaha kuliner dan memberikan beberapa resep dari “dapur”nya pada kami bahkan memberikan beberapa perlengkapan memasak. Kami mengucap syukur atas apa yang telah Tuhan atur dan berikan……seringkali di luar prediksi kami. Tuhan sering membuat surprise bagi kami.
Akhirnya ada juga saudara-saudara seiman yang menitipkan pakaian, dompet, tas, asesoris wanita, boneka, bantal, seprei bahkan kosmetik di rumah kami. Akhirnya kami menyulap ruang tamu kami menjadi toko dan tempat display. Barang-barang tersebut kami jual langsung pada sahabat dan tetangga kami maupun secara online.
Puji Tuhan, pada akhirnya kami juga dapat membantu saudara seiman yang tak ada pekerjaan maupun mencari tambahan uang dengan berjualan bersama dengan kami sambil kami memuridkan mereka.
Kami mungkin masih jauh dari hidup berkelimpahan tetapi kami belajar untuk mengucap syukur dari apa yang kami miliki saat ini dan tetap berdoa dari kesetiaan kami pada hal yang kecil ini Tuhan akan berikan perkaran yang besar pada waktuNYA.
Bapa di Surga, terimakasih atas kasih setiaMU bagi kami anak-anakMu ini. Tolong kami selalu untuk tetap berjalan dalam rancanganMU meski mungkin orang tidak atau belum dapat mengerti pelayanan kami bagi kaum terbuang. Tolong kami untuk tetap setia menjangkau mereka yang tersisih dalam masyarakat dan miskin, ajarkan pada kami memiliki motivasi yang murni dalam melayani. Bukan karena upah harta dunia tetapi karena Tuhan telah memanggil kami melayani yang terhilang dan terbuang dan mengimani upah yang dari Tuhan baik di surga maupun di dunia. Dalam kelimpahan..dalam kekurangan…dalam keadaan sehat atau pun sakit..atau apapun kondisinya…tolong kami untuk tetap setia padaMU ya Tuhan. Dalam nama Tuhan Yesus…..AMIEN.

Selasa, 20 September 2011

MASIH ADAKAH SAUDARA SEIMAN?


MASIH ADAKAH SAUDARA SEIMAN?
Bacaan 1 Korintus 12-13, Kisah Para rasul 2:41-47, 1 Yohanes 2:3-6, Matius 16:24, Matius 22:37-40, Matius 25:31-46, Lukas 12:41-44
Suatu hari kami berbincang dengan tetangga kami yang non Kristen, mengenai kehidupan berkeluarga. Saat kami berbincang itu, saya mengagumi apa yang dilakukan oleh keluarga besar tetangga saya tersebut. Bagaimana setiap keluarga saling memperdulikan anggota keluarga yang lain terutama masalah pendidikan. Anggota keluarga yang sukses secara materi dengan antusias membantu anggota keluarga yang kurang beruntung dalam hal pendidikan anak. Mereka ingin seluruh keluarga besar mereka menjadi orang-orang yang sukses. “Wouw…sebuah nilai yang sangat baik dan merupakan “prinsip tubuh Kristus banget”.
Di hari yang lain, saya berjumpa dan berbincang dengan teman saya yang “lagi-lagi” non Kristen. Salah satu topik pembicaraan kami adalah tentang usaha dan dia cerita bagaimana keluarga besarnya saling membantu dan menopang satu dengan yang lainnya dalam usaha hingga setiap anggota keluarga berkecukupan dan nama keluarga besar mereka “diperhitungkan” dalam masyarakat. “Lagi-lagi” saya melihat prinsip tubuh Kristus yang dipraktekkan oleh mereka, dimana mereka menganggap setiap anggota bagian keluarga itu penting.
Beberapa hari lalu, teman kami yang merupakan saudara seiman datang dan “curhat” bagaimana mereka yang berencana membeli rumah KPR ternyata tertipu oleh pengembang. Hingga seluruh uang mereka habis dan rencana mereka memiliki rumah tahun ini buyar seketika. Bahkan mereka diusir dari rumah kontrakan mereka sebab sudah jatuh tempo. Mereka sudah coba berbagi dengan keluarga besar mereka tetapi “tak ada bantuan atau paling tidak masukan untuk jalan keluar”, mereka malah disalahkan karena tidak berhati-hati. Beban mereka sudah menekan dan masih pula ditekan-tekan, entah mereka salah langkah atau tidak. Tapi mereka sangat butuh pertolongan. Ini sama saja dengan kecelakaan lalu lintas, ketika seseorang teledor berkendara dan terjadi kecelakaan. Kita akan segera menolongnya entah dia salah atau tidak, itu urusan nanti yang terpenting menyelamatkan nyawa seseorang.
Mereka saat itu sudah tak tahu hendak kemana, pergi ke gereja dan berbicara dengan pendeta, mereka diberikan nasehat rohani dan doa. Tetapi lalu mereka harus kemana dengan anak-anak? Mereka menangis di sisi jalan, tak tahu lagi mau kemana? Lalu mereka pergi menemui kami dan coba untuk berbincang dengan kami. Mereka sudah patah arang dan tidak tahu harus berbuat apa.
Kondisi kami pun sebenarnya tidak lebih baik, sebab kami belum membayar sisa kontrakan kami. Tapi paling tidak kami untuk saat ini masih memiliki tempat berteduh. Kami coba posisikan diri kami di dalam kondisi mereka. Akhirnya untuk beberapa hai mereka tinggal bersama kami, sambil berdoa dan berusaha,”Puji Tuhan, ada seorang anak Tuhan yang hendak menjual rumah tapi belum laku mengizinkan mereka tinggal selama 2 bulan secara cuma-cuma.”
Kami mungkin bukan keluarga kaya secara materi tetapi apa yang kami miliki, entah telinga untuk mendengarkan, entah itu mungkin sepiring nasi dan segelas air, mungkin pakaian, mungkin sedikit uang, atau apa pun yang kami miliki bila itu dapat menolong atau memberkati saudara seiman mengapa tidak? Bukankah kita keluarga di dalam Tuhan dan sudah seharusnya keluarga itu saling menolong, menasehati dan mendoakan. Bagaimana kalau kita “hanya” ditipu oleh seorang yang mengaku “saudara seiman”? Saya pun dulu pernah berpikir begitu sampai saya mendengar pernyataan Pdt Benjamin Waturangi, “Lebih baik salah memberi daripada salah tidak memberi”. Jangan beralasan tunggu kalau saya “sudah jadi kaya” baru mau mulai memberi, mulailah dari sekarang dari apa yang kita miliki.
Point apa yang hendak saya sampaikan melalui tulisan ini? Apa yang hendak saya garisbawahi adalah seharusnya kita sebagai anak Tuhan memiliki kasih yang lebih dan kepekaan terhadap kebutuhan sesamanya entah saudara seiman mau pun mereka yang “belum percaya”. Sebab kita ini satu di dalam Tuhan Yesus sebagai bagian dari keluarga Tuhan dan anggota tubuh Kristus, bagi yang belum percaya kita harus jadi terang dan garam. Seharusnya Tuhan yang kita sembah itu dapat terefleksi dalam kehidupan kita sehari-hari. Banyak orang Kristen yang agamawi tetapi tidak rohani.
Orang Kristen agamawi sangat rajin “rajin beribadah dan mengikuti setiap kegiatan gereja” tetapi lalu menghakimi saudara seimannya yang tak dapat “serajin” dirinya dan merasa dirinya lebih rohani daripada yang lain. Biasanya pintar menggunakan ayat-ayat firman Tuhan, bukan untuk membangun tetapi biasanya untuk “menyerang” saudaranya yang dia anggap tidak serohani dan sekudus dirinya.
Bagaimana dengan orang Kristen rohani? Ia adalah seorang yang mencintai kebenaran, membaca firman Tuhan, berdoa dan mencari kehendak Tuhan dalam hidupnya. Ia akan melakukan kebenaran firman Tuhan dan coba membimbing saudaranya bukan hanya dengan kata-kata tetapi gaya hidupnya atau teladannya. Ketika melihat saudaranya tengah lemah maka ia bukan saja mendoakan tetapi juga berupaya secara optimal menolong saudaranya. Tuhan mengajarkan pada kita “apa yang kau kehendaki orang lain perbuat pada dirimu, lakukanlah hal itu terlebih dulu pada orang lain.”
Saya merasa “malu” ketika melihat orang yang belum percaya justru malah mempraktekkan kebenaran yang ada dalam Kitab Suci kita. Saya “sedih” selama ini mungkin kita tidak pernah atau jarang membaca Alkitab secara utuh dan hanya membacanya sepenggal-sepenggal hingga gambar kita akan kehendak Tuhan pun terpemggal-penggal. Kita hanya mau membaca bagian Alkitab yang menyenangkan telinga dan hati kita tetapi mengabaikan ayat-ayat yang “kurang menyenangkan” apalagi bila berbicara mengenai “pikul salib”, “menderita bagi Kristus”, saling berbagi atau saling menolong hingga tak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka, dstnya.
Doa saya adalah agar setiap anak Tuhan bertumbuh di dalam Kristus, setiap hari menyelidiki kebenaran dan lalu mengaplikasikannya dalam kehidupan melalui bimbingan dan pertolongan Roh Kudus. Tidak cukup bagi kita hanya jadi orang Kristen yang rajin ke gereja dan “hanya” makan “fast food” dari Bapak Pendeta. Kita bisa saja makan atau jajan di luar rumah tetapi pada dasarnya kita perlu makanan sehat saat di rumah. Kita bisa saja menghadiri gereja atau seminar dan kegiatan rohani lainnya tetapi sangatlah penting memiliki disiplin membaca dan merenungkan Alkitab sendiri bersama dengan Tuhan. Kita harus bertanya pada Tuhan setiap kali membaca Alkitab, apa yang hendak IA sampaikan pada kita. Setiap hari Tuhan ingin membentuk kita makin segambar dengan pribadiNYA dan membimbing kita untuk semakin mengerti panggilanNYA bagi kita selama kita hidup di muka bumi ini. Sebab setiap kita memiliki tugas dari Tuhan untuk diselesaikan, sebab itu kita sebagai saudara seiman saling membutuhkan. Kerajaan Tuhan harus ditegakkan bersama-sama bukan hanya oleh salah satu “merk” gereja atau lembaga. Keluarga Tuhan seharusnya terekspresi dalam kasih kita satu dengan yang lain dan kekompakan kita di dalam Tuhan Yesus. Siapa “tuhan” kita sebenarnya dalam hati kita akan terekspresikan dalam hidup sehari-hari kita.